Dari sekian banyaknya kegiatan yang pernah saya ikuti, mengikuti casting film pendek ini adalah keputusan paling spontan namun paling berharga. Kenapa? Karena berawal dari niat mencoba, ternyata berubah jadi pengalaman paling berkesan dalam hidup saya. Saya pun masih ingat rasa gugup saya saat menunggu giliran, tapi justru dari situ saya belajar untuk percaya pada proses dan kemampuan diri sendiri. Tanpa ekspektasi apa pun, saya masuk ke ruang casting dan melakukan yang terbaik, dan hasilnya membuat saya untuk semakin memberikan yang terbaik. Sebenarnya, di hati saya sudah muncul sedikit perasaan senang saat mendengar bahwa saya terpilih untuk mengikuti casting sebuah film pendek, karena berakting merupakan hobi saya dari kecil, walaupun saya sampai saat ini belum membuat langkah berani untuk mewujudkan menjadi impian yang lebih besar. Saya percaya semua hal bisa dimulai dari hal kecil, termasuk impian saya. Saya pun bersyukur karena orang-orang di sekitar saya selalu meyakinkan dan mempercayai bahwa saya sanggup melakukannya. Namun selama berdinamika bersama teman-teman dan para guru, saya sempat merasa canggung dan khawatir saya belum bisa memenuhi ekspektasi yang sudah mereka berikan kepada saya. Namun perlahan, rasa itu mulai memudar saat saya sadar bahwa mereka bukan menuntut saya untuk sempurna, tetapi ingin melihat saya berusaha dan menikmati prosesnya. Selama berdinamika bersama mereka, saya benar-benar melihat betapa besar usaha yang mereka lakukan. Guru-guruku bermalam bersama di sekolah sambil menulis naskah, memastikan semua properti aman, dan teman-temanku pun ikut lembur hanya untuk menyempurnakan editan film pendek ini. Menurutku, tanpa dukungan dan kerja keras mereka, film ini tidak akan menjadi karya terbaik yang akhirnya berhasil meraih juara. Aku tahu harapan mereka cukup besar, meskipun ada rasa pesimis di antara kami. Menurutku, kami semua baik yang bekerja di depan maupun dibelakang layar sangat menikmati momen dan proses, sehingga saya merasa kemenangan adalah bonus yang diberikan Tuhan melalui penilaian para juri.
Melihat semua itu, saya merasa punya tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik. Bukan hanya untuk diri sendiri, namun untuk semua orang yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya demi proyek ini. Setiap kali latihan, setiap kali take ulang, dan setiap kali kami pulang larut, ada rasa lelah yang ikut hadir, tapi lebih besar lagi rasa bangga karena kami melakukannya bersama. Saya belajar bahwa sebuah film bukan hanya soal siapa yang tampil di depan kamera, tetapi tentang seluruh tim yang saling melengkapi dari belakang layar. Dukungan mereka membuat saya berani melawan rasa ragu, dan sedikit demi sedikit, saya mulai percaya bahwa kami memang bisa menciptakan sesuatu yang istimewa. Pengalaman mengikuti casting film pendek berjudul “Courageous Steps” dan menghayati 4 mascot di masa Yubelium ini dengan makna bukan hanya satu “wajah”, tapi kumpulan “wajah” yang berbeda namun saling melengkapi, juga menggenggam erat kalung Yayasan Leo Dehon seperti pada cover dan spiritualitas SCJ mengingatkan kami pada keberanian untuk melangkah dengan hati persis seperti semangat ‘Courageous Steps’. Empat maskot Yubelium pun menjadi gambaran empat kekuatan rohani yang menuntun langkah itu: harapan, kesatuan, sukacita, dan iman. Semuanya bersatu membentuk identitas kami sebagai generasi yang berani mencintai, berani melayani, dan berani mengambil langkah kecil yang berdampak besar. Festival Film Ardas antar sekolah se-KAJ mengajarkan saya satu hal yaitu keberanian kecil bisa membawa perubahan besar. Saya tak pernah menyangka kalau satu keputusan kecil untuk mengikuti FFA KAJ bisa membawa saya sampai ke panggung juara, saya merasa seluruh tim pun juga berpikir seperti itu. Momen inilah yang mengajarkan saya untuk berpikir bahwa bakat itu memang penting, namun keberanian untuk melangkah jauh lebih berarti. Terimakasih atas pengalaman berharga yang saya dapati untuk terus bertumbuh dalam iman dan sesama.