Oleh : Kezia Sinaga dari kelas XII F3 SMA Santo Antonius
Berada di penghujung masa SMA berarti harus akrab dengan satu kata: Ujian Praktik. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya deretan tugas penilaian. Tapi bagiku, rangkaian ujian yang baru saja kulewati ini adalah kepingan kenangan yang akan tersimpan rapi dalam memori “putih abu-abu”.
Di Antara Tugas dan Persiapan yang Berkejaran
Semua bermula beberapa hari sebelum libur Natal dan Tahun Baru. Saat orang lain mulai memikirkan rencana liburan, kami sudah disuguhi arahan dari guru-guru pendamping. Rasanya, waktu seperti dipacu mesin jet. Begitu kembali ke sekolah, kami langsung dihadapkan pada kenyataan pahit: harus membagi fokus antara materi pelajaran, presentasi yang menumpuk, dan persiapan ujian praktik yang menguras energi.
Terutama bagi kami yang punya kesibukan di luar sekolah, rasanya seperti sedang melakukan juggling dengan bola api. Melelahkan? Pasti.
Harmoni dalam Pertengkaran
Memasuki pertengahan Januari, latihan rutin pun dimulai. PJOK, Seni Musik, dan Bahasa Indonesia menjadi menu harian kami. Latihan kali ini terasa berbeda—ada beban nilai, tapi juga ada rasa memiliki.
Kami melewati roller coaster emosi. Ada tawa yang pecah saat gerakan tari salah, rasa grogi yang mencekam, hingga kekecewaan yang berujung pada pertengkaran. Mungkin bagi orang luar, kelas kami terlihat tidak kompak. Namun bagi kami, pertengkaran itulah akar kebersamaan kami. Dari sana kami belajar memahami ego masing-masing demi satu tujuan.

Pulang Sore dan Teguran Guru
Menjelang hari-H, suasana semakin intens. Properti dan dekorasi mulai memenuhi sudut kelas. Kami rela pulang terlambat setiap hari demi menyempurnakan penampilan, sampai-sampai sering ditegur guru karena masih berada di sekolah saat matahari sudah tenggelam. Terdengar menyeramkan saat itu, tapi aku yakin, momen “dikejar-kejar” guru ini akan menjadi bahan candaan yang manis saat kami reuni nanti.






Enam Hari yang Menguras Rasa
Ujian pun tiba. Enam hari berturut-turut kami berjuang, mulai dari lapangan PJOK hingga panggung Bahasa Indonesia. Hari pertama tidak berjalan mulus—kami melakukan kesalahan fatal yang memicu amarah guru. Tapi dari sana kami belajar untuk bangkit dan memperbaiki diri di hari-hari berikutnya.
Jika harus jujur, Seni Musik dan Bahasa Indonesia adalah tantangan terberat yang menguras keringat dan air mata. Sementara Agama dan Bahasa Inggris terasa sedikit lebih “ramah” untuk dipersiapkan. Namun, setiap mata pelajaran memiliki ceritanya sendiri yang tak bisa disepelekan.



Akhir dari Sebuah Awal
Saat hari terakhir usai, rasa lelah yang luar biasa itu mendadak lebur menjadi kelegaan. Memang, perjalanan belum usai karena Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) sudah menanti di depan mata. Benar kata orang, kelas 12 adalah tahun tersibuk, tapi juga tahun yang paling “hidup”.


Pengalaman ujian praktik ini bukan lagi tentang angka di raport. Bagiku, ini adalah warisan cerita. Suatu saat nanti, kami tidak akan mengingatnya sebagai sebuah ketakutan, melainkan sebagai nostalgia indah yang akan selalu memicu senyum.


