Oleh: Trichia Wijaya Kelas XII F4
Bagi saya, Trichia Wijaya, menempuh ujian praktik di kelas XII bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan sebuah perjalanan emosional yang luar biasa. Jika ditanya bagaimana rasanya, jawabannya adalah “campur aduk”. Namun, jika harus jujur, rasa tertekan dan gugup—terutama pada ujian individual—menjadi tantangan terbesar yang harus saya hadapi.






Tantangan Seni dan Tanggung Jawab
Ujian yang paling menguras energi, baik fisik maupun mental, adalah Seni Musik. Di sana, saya harus menampilkan tiga lagu berbeda dengan rekan kolaborasi yang berbeda pula. Sebagai pemain instrumen yang tampil di aula besar, beban mentalnya terasa berlipat ganda; bahkan tangan saya tidak berhenti gemetar sepanjang penampilan.


Tak kalah menantang, ujian Bahasa Indonesia menempatkan saya pada posisi krusial sebagai sutradara drama. Mulai dari menyusun naskah, memilih pemeran, hingga mengatur jalannya pertunjukan adalah proses melelahkan yang menuntut rasa tanggung jawab besar.



Spektrum Pengalaman di Setiap Bidang
Setiap mata pelajaran membawa warna tersendiri dalam menempa mental kami:
- PKWU & Bahasa Inggris: Mengasah kreativitas produk dan kemampuan komunikasi melalui presentasi serta hafalan teks mandiri.
- Agama: Menjadi momen refleksi yang mendalam, di mana kami meninjau kembali perjalanan hidup hingga tak jarang air mata menetes.
- PJOK: Menguji batas kebugaran jasmani yang meninggalkan rasa pegal, namun memberikan kepuasan fisik.
Buah dari Kerja Keras
Meskipun dilalui dengan penuh tekanan, hasil yang saya peroleh sangat membanggakan. Lebih dari sekadar nilai, pengalaman ini mengajarkan saya tentang esensi kebersamaan, kekompakan, dan kekeluargaan.

Proses ini telah melatih sisi kepemimpinan saya—mulai dari inisiatif, manajemen waktu, hingga pengorbanan. Pada akhirnya, ujian praktik ini adalah proses pendewasaan yang membantu kami tumbuh menjadi penerus bangsa yang membawa nilai-nilai Locoresa dalam jati diri kami.
