“Selama tiga hari, terhitung sejak Senin (2/2) hingga Rabu (4/2/2026), siswa-siswi kelas 11 F1-F3 SMA Santo Antonius telah melaksanakan kegiatan Bakti Sosial. Sebagai program alternatif pengganti Live In, kegiatan wajib ini difokuskan pada kunjungan ke berbagai panti yang telah ditentukan bagi setiap kelas. Dalam pelaksanaannya, kelas 11 F1 mengunjungi panti Anak Berkebutuhan Khusus (Sayap Ibu), kelas 11 F2 memberikan perhatian di panti jompo (Tresna Werdha Caritas), sementara kelas 11 F3 berbagi kasih di Panti Asuhan Hagaini.” “Kelas 11 F2 mendapat kehormatan sebagai pembuka rangkaian bakti sosial tahun ini karena terpilih sebagai rombongan pertama yang berangkat. Dengan misi sederhana namun mulia, mereka mengunjungi Panti Tresna Werdha Caritas untuk berbagi kebahagiaan bersama para oma sekaligus mengasah empati terhadap sesama. Chandra, perwakilan kelas 11 F2, menuturkan bahwa agenda pada 2 Februari tersebut berlangsung sangat dinamis. Meski bersifat wajib, para siswa menjalaninya dengan penuh ketulusan tanpa rasa terbebani. Selain menyalurkan bantuan logistik, mereka aktif berinteraksi lewat sesi bercerita dan bernyanyi bersama para lansia. Chandra mengaku suasana batin para siswa saat itu bercampur aduk antara rasa haru dan bahagia, terutama saat melihat antusiasme para oma yang menyambut mereka dengan sorakan ‘hore’. ‘Baksos kemarin memberi pelajaran berharga bagi kami untuk lebih menghargai waktu dan sosok orang tua selagi mereka masih ada,’ pungkasnya.” “Selasa, 3 Februari 2026 menjadi hari yang penuh makna bagi kelas 11 F1 di Panti Sayap Ibu. Sejak pagi, kesibukan menata ruangan dan menyiapkan sound system telah dimulai demi menyambut teman-teman baru mereka. Begitu anak-anak panti hadir, sekat kecanggungan perlahan mencair. Melalui aktivitas melukis keychain beruang mungil, komunikasi intens pun terbangun antara siswa pendamping dan anak-anak panti. Momen tak terlupakan tercipta ketika Yuyun, salah satu anak panti, menunjukkan bakat menarinya bersama Suta dengan penuh energi. Tawa pecah saat mereka berdansa mengikuti irama lagu ‘Kamu’. Walaupun rangkaian acara harus sedikit berpacu dengan jadwal tidur siang anak-anak hingga satu agenda lagu terpaksa dilewati, esensi dari pertemuan ini tetap tersampaikan. Penyerahan bantuan logistik dan donasi menjadi penutup fisik, namun pelajaran tentang keterbukaan hati dan kebersamaan menjadi oleh-oleh batin yang akan terus dibawa oleh setiap siswa 11 F1.” “Rangkaian bakti sosial ditutup dengan penuh kesan oleh kelas 11 F3 di Panti Asuhan Hagaini pada Rabu (4/2/2026). Meski menjadi kelompok terakhir, antusiasme para siswa sama sekali tidak luntur. Kehangatan langsung terasa saat siswa disambut dengan jabat tangan dan ‘tos’ ceria dari anak-anak panti, yang bahkan tak segan berbagi cerita tentang cita-cita mereka. Acara dimulai dengan aktivitas mewarnai dan menuliskan impian pada selembar kertas sebagai simbol harapan. Kemeriahan semakin memuncak setelah makan siang dengan kehadiran tamu spesial, Romo Edi, yang turut menyerahkan bantuan sembako secara simbolis. Suasana menjadi sangat riuh saat permainan Musical Chairs dimulai dengan tantangan yang semakin sulit di setiap babak. Andrew, perwakilan kelas 11 F3, menceritakan momen seru sekaligus menegangkan ketika sebuah kursi patah di tengah persaingan, ‘Untungnya tidak ada yang terluka,’ ungkapnya. Meski sempat diwarnai drama kecil perebutan botol minum antar anak, kegiatan tetap berakhir manis dengan sesi membuat gelang bersama dan foto ceria, sebelum para siswa berpamitan kembali ke bus menuju sekolah.” “Tuntas sudah perjalanan kasih kelas 11 F1-F3. Benih kepedulian yang awalnya mungkin tumbuh karena kewajiban, perlahan mekar menjadi ketulusan saat para siswa terjun langsung melayani. Bakti sosial ini bukan sekadar tentang memberi barang pokok, melainkan tentang pertukaran energi kehidupan antara siswa dan penghuni panti. Siswa belajar tentang kesabaran dari para lansia, ketegaran dari anak-anak berkebutuhan khusus, dan semangat dari anak-anak panti asuhan. Perbedaan latar belakang justru menjadi jembatan untuk memahami arti toleransi dan pelayanan yang sesungguhnya. Kegiatan ini berakhir dengan rasa syukur dan kepuasan mendalam, meninggalkan jejak kedamaian di hati setiap orang yang terlibat.”